Jakarta, pagata.id – Mimpi menjadi juara D’Academy 7 Indosiar semakin dekat, namun persaingan di panggung kini semakin tajam. Result Show Top 6, yang digelar pada Senin malam (1/12/2025), menjadi titik balik yang sangat menentukan bagi enam kontestan terbaik yang telah berjuang sejak audisi.
Malam itu, di hadapan dewan juri dan jutaan penonton, semua peserta dituntut tampil sempurna untuk mengamankan satu tempat di lima besar. Sayangnya, ketatnya kompetisi harus mengantarkan kabar mengejutkan sekaligus kesedihan bagi pendukung Mutia Imran, duta dari Bone Bolango, Perwakilan Provinsi Gorontalo.
Mutia, yang dikenal memiliki kualitas vokal prima, stabil, dan jangkauan nada tinggi yang diakui juri itu, tampil habis-habisan di malam penentuan. Bersama Mila (Bogor) dan Valen (Pamekasan), mahasiswi Sendratasik UNG ini membawakan lagu “Mari Berdendang” dalam konsep battle academia. Penampilan kolaborasi mereka malam itu berhasil memanen 3 Standing Ovation (SO) dari dewan juri, sebuah bukti konsistensi kualitas vokalnya.
Sayangnya, penampilan memukau Mutia tidak mampu mengamankan posisinya. Berdasarkan akumulasi perolehan virtual gift sementara dari pemirsa, Mutia berada di urutan terbawah, bersaing ketat dengan Tasya dari Tangerang Selatan. Pada detik-detik menegangkan, dewan juri akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan Tasya, memastikan Mutia harus merelakan mimpinya dan meninggalkan panggung D’Academy 7.
Momen perpisahan berlangsung dengan penuh keharuan. Ketika namanya diumumkan, Mutia tampak tidak dapat membendung air matanya. Dalam kesedihan, ia menyampaikan ucapan terima kasihnya yang tulus, terutama kepada orang tuanya yang selalu memberikan dukungan tanpa batas. Mutia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pendukung dan masyarakat Provinsi Gorontalo atas seluruh kepercayaan dan doa yang telah diberikan selama ini.
Dengan tersenggolnya Mutia, kontestan asal Gorontalo ini harus puas dengan pencapaiannya sebagai Top 6 D’Academy 7. Mutia telah menjadi kebanggaan Bone Bolango dan Gorontalo berkat konsistensi dan kualitas suaranya sepanjang kompetisi. Ia pun bertekad bahwa terhentinya ia di panggung ini bukanlah akhir dari karier bermusiknya, melainkan awal untuk terus berkarya.
Meski terhentinya langkah Mutia di Top 6 sama sekali tidak menghentikan dukungan dari Gorontalo. Bagi mereka, dirinya adalah pilihan terbaik. Mutia adalah pemenang sejati dan terbaik di hati Gorontalo. Dukungan itulah menjadi modal utamanya untuk melangkah maju, melanjutkan kiprahnya di industri hiburan.
Dari panggung yang bergengsi ini, ucapan perpisahannya menjadi janji untuk terus berjuang. Pengalaman di panggung Top 6 D’Academy merupakan modal besar bagi Mutia, didukung penuh oleh masyarakat Gorontalo, untuk melanjutkan langkahnya berkarya dan menorehkan prestasi di masa depan. (pd)







