BOALEMO, pagata.id | Ketika jabatan semestinya melindungi warga, justru diduga dipakai untuk memukul. Peristiwa memprihatinkan ini terjadi di Desa Bualo, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo. Hanya karena persoalan sepele terkait hewan ternak, seorang oknum kepala desa diduga melakukan penganiayaan terhadap warganya sendiri.
Kejadian ini beredar luas setelah adik korban, Sri Wilin, membagikan curhatan pilunya di media sosial. Kamis (15/1/3026), dalam unggahan tersebut, Sri menceritakan bahwa kakaknya, Ilin, diduga dipukul menggunakan tali pengikat sapi oleh oknum kepala desa berinisial RM. Akibat kejadian itu, korban mengalami luka memar di bagian punggung.
Pemicunyapun terbilang sederhana. Seekor sapi milik korban diketahui memakan rumput bebek yang diklaim milik sang kepala desa. Namun, alih-alih menyelesaikan persoalan secara musyawarah, oknum kades tersebut justru disebut langsung bertindak kasar.
Padahal, menurut keterangan Sri, di lokasi kejadian bukan hanya sapi milik kakaknya yang sedang makan rumput. Terdapat beberapa sapi milik warga lain yang juga berada di area yang sama. Namun, entah mengapa, hanya Ilin yang menjadi sasaran kemarahan.
“Walaupun sapi kakak saya makan rumput itu, tapi tidak sengaja. Sapi itu ada anaknya yang masih kecil, kemungkinan dia lepas karena mencari anaknya,” ungkap Sri dengan nada kecewa.
Sri juga menegaskan bahwa tindakan tersebut terjadi tanpa adanya komunikasi atau upaya penyelesaian secara baik-baik. Tidak ada teguran, tidak ada musyawarah, apalagi pendekatan persuasif yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin desa.
“Yang bikin kami tambah sakit hati, sapi yang makan rumput itu bukan cuma sapi kakak saya. Ada sapi warga lain juga. Tapi yang dianggap dan dipukul hanya kakak saya,” tambahnya.
Keluarga korban menilai sikap oknum kepala desa tersebut sangat berlebihan dan mencerminkan emosi yang tidak terkendali. Menurut mereka, persoalan ternak seperti ini seharusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan tanpa kekerasan.
“Kakak saya dipukul hanya karena sapinya makan rumput. Padahal itu bisa diselesaikan dengan cara baik-baik,” tegas Sri.

Meski korban mengalami luka memar, hingga kini pihak keluarga belum menempuh jalur hukum. Mereka justru berharap adanya perhatian dan tindakan tegas dari pimpinan daerah atas dugaan arogansi aparat desa tersebut.
“Kami berharap ada perhatian dari Bupati Boalemo agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” pungkas Sri.
Kasus ini bukan semata soal rumput bebek atau hewan ternak, melainkan tentang bagaimana kekuasaan dijalankan. Jika benar seorang pejabat desa menggunakan kewenangannya untuk bersikap kasar terhadap warga, maka hal ini berpotensi mencederai rasa keadilan dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya.
Oleh karenanya, peristiwa ini dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah, demi memastikan perlindungan warga serta menjaga tanggung jawab moral pejabat publik agar kejadian serupa tidak kembali terulang. (pd)







