BOALEMO, pagata.id | Boalemo baru saja memulai sebuah eksperimen besar di kursi Sekretaris Daerah. Bukan lagi soal siapa yang resmi dilantik, tapi soal mampukah deretan gelar akademik yang panjangnya saingan dengan daftar masalah daerah itu benar-benar jadi solusi nyata.
Publik saat ini sedang dalam mode ‘pantau terus’, karena ekspektasi terhadap seorang profesor tentu bukan sekadar bisa memimpin rapat, tapi harus bisa mengubah wajah birokrasi yang selama ini dianggap masih jalan di tempat.
Jauh sebelum posisi ini terisi, meja-meja warung kopi dan tongkrongan aktivis di Boalemo sudah lebih dulu ‘mendidih coy’. Bursa jabatan Sekda ini sudah dibedah habis oleh mereka yang setiap harinya mengawal isu daerah.
Perdebatannya pun seru: apakah kita butuh otak segar dari kalangan akademisi yang punya teori segudang, atau sebenarnya kita lebih butuh sosok yang sudah berdarah-darah di lapangan tanpa perlu gelar yang bikin silau?
Bagi sebagian orang, kehadiran sosok intelektual tinggi dianggap sebagai angin segar agar cara pandang pemerintah tidak lagi kaku dan tradisional. Harapannya, ilmu dari kampus bisa diterjemahkan jadi kebijakan yang presisi buat urusan ekonomi rakyat.
Namun, di sisi lain, muncul suara-suara skeptis yang cukup ‘pidis’. Rakyat mulai khawatir kalau jabatan ini cuma jadi ajang gaya-gayaan gelar, sementara eksekusi di lapangan malah loyo dan nggak nyambung dengan kebutuhan yang diharpakan.
Masalah makin menarik saat bicara soal investasi emosional. Ada luka yang sulit disembunyikan ketika figur-figur lokal yang selama ini setia menjaga daerah tetap bertahan meski kondisi lagi sulit-sulitnya justru harus menepi.
Muncul pertanyaan soal komitmen: apakah kembalinya sang pejabat baru ini murni untuk pengabdian tulus, atau jangan-jangan cuma karena tergoda untuk menduduki kursi panas yang baru saja berganti tuan?
Di mata para sebagian aktivis sekarang, kepintaran tanpa kesetiaan jangka panjang itu rasanya seperti janji manis yang gampang hilang saat ada tawaran lain yang lebih menggiurkan.
Mengadu Teori di Meja Sekda: Antara Gengsi Akademik dan Realitas Pengabdian
Sekarang, setelah semua keriuhan diskusi di media sosial dan warkop mulai mereda, beban pembuktian sepenuhnya ada di tangan sang ‘Panglima ASN’ yang baru.
Rakyat tidak butuh kuliah umum atau retorika yang susah dipahami. Yang ditunggu adalah apakah kehadiran beliau bisa membawa perubahan nyata dalam seratus hari ke depan, atau justru malah membenarkan keraguan publik bahwa kepintaran saja ternyata nggak cukup untuk mengurus daerah sekompleks Boalemo.
Sidang terbuka di mata masyarakat sudah dimulai. Kalau nggak ada terobosan yang benar-benar dirasakan manfaatnya, maka gelar mentereng itu cuma bakal berakhir jadi pajangan dinding kantor yang sunyi dari prestasi.
Boalemo lagi butuh kerja nyata yang membumi, bukan sekadar teori yang melangit tapi nggak nyambung dengan realitas di bawah. (pd)
Titel Panjang, Jalan Terjal: Bisakah Sang Profesor Menjawab Luka Teritorial.???







