GORONTALO, pagata.id | Menjelang pembukaan Pekan Nasional Petani Nelayan (PENAS) KTNA XVII tahun 2026 di Provinsi Gorontalo, atribut promosi kegiatan yang terpasang di area publik tengah menarik perhatian warganet.
Baliho resmi tersebut ramai dibahas setelah diulas oleh akun media sosial @ishak.sambayang melalui sebuah unggahan video.
Dalam video tersebut, pemilik akun menunjukkan adanya kejanggalan visual yang cukup mencolok pada baliho yang memuat gambar Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, logo pemerintah, logo pendukung lainnya, serta maskot resmi PENAS XVII tersebut.
Sorotan utama tertuju pada objek gambar seorang bapak nelayan yang sedang memegang ikan.
Jika dilihat secara detail, ikan tersebut tidak memiliki kepala. Bagian kepala ikan justru diganti dengan ekor, sehingga tampak seperti dua badan ikan yang menyatu dengan dua ekor di masing-masing ujungnya.
Selain itu, manipulasi digital visual objek manusia di dalam baliho dinilai hanya sekadar mengganti penampilan wajah dan menambahkan aksesori template yang tampak tidak proporsional dan tidak natural.
Netizen menduga kuat bahwa desain baliho ini dibuat secara instan memanfaatkan teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) generasi visual, namun tanpa melalui proses penyuntingan ulang (re-touching) atau kendali mutu (quality control) yang teliti.
Fenomena ini memicu gelombang diskusi di kalangan masyarakat. Di satu sisi, publik menyadari bahwa perkembangan dunia digital dan teknologi AI saat ini sudah sangat pesat dan menjadi hal yang lumrah untuk mempercepat pekerjaan.
Namun, yang menjadi persoalan besar di sini bukanlah menolak penggunaan AI, melainkan masalah kepantasan, ketelitian, dan effort (upaya) dalam menyambut sebuah perhelatan akbar berskala nasional.

PENAS XVII bukan sekadar acara lokal, melainkan panggung nasional di mana Provinsi Gorontalo bertindak sebagai tuan rumah bagi sekitar 13.000 hingga 15.000 tamu dari seluruh penjuru Nusantara, termasuk rencana kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto.
Masyarakat mempertanyakan bagaimana pandangan para delegasi dari provinsi lain nanti saat melihat atribut promosi yang terkesan dibuat ‘asal jadi’ dan kurang teliti, padahal penyelenggaraan kegiatan besar seperti ini tentunya ditopang oleh anggaran negara yang tidak sedikit.
“Ini bukan soal anti-AI atau mencari kerja yang ideal saja. Tapi ini perhelatan nasional, tamunya belasan ribu dari seluruh Indonesia. Kalau effort pembuatan materi promosinya lebih maksimal, tentu hasilnya akan mencerminkan semangat dan keseriusan kita sebagai tuan rumah,” ujar salah satu opini yang berkembang di masyarakat merespons video viral tersebut.
Kelalaian dalam mendesain baliho resmi ini juga disayangkan karena seolah mengabaikan potensi desainer grafis dan seniman lokal Gorontalo yang sebenarnya memiliki kapasitas jauh lebih baik untuk menghasilkan karya yang rapi, bermakna, dan minim kekeliruan anatomi visual seperti kasus ‘ikan tanpa kepala’ tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, publik dan netizen masih menunggu langkah konkret dari panitia pelaksana maupun Dinas terkait untuk segera merevisi atau mengganti baliho-baliho yang keliru tersebut demi menjaga marwah dan nama baik Provinsi Gorontalo di mata para tamu nasional yang kini mulai berdatangan. (pd)





























