KABGOR, pagata.id | Pendidikan modern menuntut sistem yang semakin maju. Namun kenyataan di beberapa wilayah menunjukkan kondisi yang jauh dari harapan.
Tahun 2026 tapi akses pendidikan masih rasa zaman batu, Gak habis fikri..! Saat daerah lain sibuk pamer digitalisasi, para siswa di Desa Polohungo, Kabupaten Gorontalo, justru harus adu mekanik lawan arus sungai keruh tiap pagi.
Ketika pemandangan memprihatinkan ini kembali sengsara disaat anak siswa harus gulung celana dan nyeker demi bisa sampai ke sekolah. Jembatan yang harusnya jadi penyambung mimpi mereka sekarang hanya meninggalkan pajangan yang tak tersentuh.
Katanya prioritas pendidikan, tapi jembatan rusak bertahun-tahun cuma dikasih janji manis tanpa eksekusi. Warga sudah mengeluh, tapi respon ini cuma disuruh sabar sampai waktu yang tidak ditentukan.
Mujakir Rajak, salah satu warga setempat, menegaskan bahwa ini bukan sekadar soal jalan rusak, tapi soal hak dasar yang terabaikan.
“Setiap pagi mereka harus saling pegangan tangan biar nggak hanyut. Kalau hujan deras, nyawa taruhannya,” ungkap Mujakir.

Risiko kecelakaan selalu mengintai, apalagi saat musim hujan ketika debit air meningkat drastis bukan lagi soal sepatu basah, tapi ini soal keselamatan nyawa.
Pendidikan yang seharusnya menjadi jalan keluar dari kesulitan, tapi ini malah menjadi jalan yang membahayakan nyawa. Ketika anak-anak ini tetap melangkah meski tanpa jembatan, mereka sebenarnya sedang menagih janji yang tak kunjung tunai.
Selama belum ada sentuhan dan perbaikan dilakukan, maka keselamatan para siswa masih menjadi taruhan dalam perjalanan menuju sekolah. (pd)





























