pagata.id | Bicara soal tambang sudah sangat melekat di jiwa masyarakat Gorontalo, apalagi belakangan ini makin hangat, sehangat cuaca terik yang tak kunjung disiram datangnya hujan.
Mulai dari aksi demo yang menuntut oknum petugas perusahaan tambang untuk angkat koper gara-gara tingkahnya yang hobi pamer power dan sok jagoan, sampai drama di jalur BBM bersubsidi.
Belum reda kekesalan publik soal isu oknum tambang tersebut, masyarakat kembali disuguhkan aksi “tukar tangkap” solar yang alurnya di luar nurul.
Melansir pemberitaan dari harianpost.id, babak pertama kejadian ini mulai bergulir pada Rabu dini hari (5/8/2026) sekitar pukul 02.00 WITA.
Tim Intel Kodam XIII/Merdeka memberhentikan satu unit mobil Gran Max yang sedang melintas di kawasan Desa Palopo.
Saat diperiksa, kendaraan tersebut ternyata mengangkut 71 jerigen yang berisi sekitar 2.485 liter solar bersubsidi.
Suasana di lokasi penangkapan langsung bikin menggelengkan kepala saat sang pengemudi diajak bicara oleh petugas.
Tanpa rasa berdosa, si sopir bernyanyi nyaring bahwa muatan solar tersebut disinyalir milik oknum Brimob Polda Gorontalo, Brigadir V.
Mendengar pengakuan tersebut, jajaran TNI langsung menyerahkan seluruh barang bukti beserta sang sopir ke Polres Pohuwato.
Warga yang mendengar kabar ini pun sebenarnya tidak kaget-kaget amat, karena dari awal publik memang sudah paham ke mana arah angin permainannya.
Namun, belum sempat riak babak pertama itu dingin, babak kedua langsung menyusul hanya dalam jeda lima hari kemudian.
Masih dengan pemberitaan harianpost.id, tepat pada Senin (10/8/2026) sekitar pukul 03.00 WITA, giliran personel Sat Brimob Polda Gorontalo yang bergerak di lapangan.

Petugas melakukan pengejaran terhadap satu mobil bak terbuka yang mendadak tancap gas berkecepatan tinggi.
Pengemudi mobil tersebut bahkan langsung kabur dan meninggalkan kendaraannya beserta muatan BBM begitu saja di pinggir jalan.
Hasil pengembangan polisi di sekitar lokasi akhirnya menemukan total lima unit mobil bak terbuka yang mengangkut 200 jerigen atau sekitar 7.000 liter solar bersubsidi.
Menariknya, proses penanganan barang bukti setelahnya langsung berjalan sesuai porsi dan ranah kewenangan masing-masing.
Dari lima mobil yang diamankan, empat unit mobil berisi 4.200 liter solar diproses lanjut di Mapolres Pohuwato.
Sementara satu unit mobil berisi 2.800 liter solar yang disinyalir milik oknum TNI justru diantarkan oleh pihak kepolisian ke Unit Intel Korem 133/Nani Wartabone.
Aksi amankan muatan yang saling berbalas rapi ini memperlihatkan betapa presisinya batas koordinasi antarinstansi di lapangan.
Masyarakat kita juga yang menyimak peristiwa ini pun paham betul, di balik ribetnya urusan tambang dan jalur solar, ada asap dapur yang harus terus ngebul demi makan anak istri.
Lagipula selagi kita masih bisa menikmati kopi dan makan yang enak hari ini, jalani saja hidup dengan berkahnya kita masing-masing.
Toh mau seperti apa pun dinamika di lapangan, harapan masyarakat sebenarnya sederhana saja: hak rakyat atas solar subsidi tetap sampai ke tangan yang berhak.
Sebab jika distribusi kuota BBM tepat sasaran, roda ekonomi warga kecil pun bisa berputar dengan tenang tanpa perlu diwarnai drama yang berkepanjangan. (pd)





























